>

Monday, September 10, 2012

Alkohol Sebabkan Disfungsi Ereksi dan Impotensi

By Unknown | At 8:06 AM | Label : | 0 Comments
Disfungsi ereksi atau impotensi adalah suatu kondisi di mana seorang pria tidak mampu mencapai ereksi yang cukup keras untuk melakukan hubungan seksual. Dalam beberapa kasus, beberapa pria mampu mencapai ereksi yang keras tetapi tidak dapat mempertahankannya cukup lama untuk menyelesaikan hubungan seks.
Alkohol Sebabkan Disfungsi Ereksi Pada Pria
Kebanyakan pria akan mengalami kesulitan ereksi di beberapa titik dalam hidup mereka, tapi dalam sebagian besar kesempatan tetap berhasil, dalam kondisi tersebut mereka masih dalam kategori normal. Merujuk kepada definisi disfungsi ereksi dari WHO, disebutkan bahwa kegagalan ereksi selama tiga bulan berturut-turut atau sebanyak 25 persen dari kesempatan yang ada sudah dikategorikan sebagai disfungsi ereksi berat dan harus segera diobati.
Penyebab disfungsi ereksi bermacam-macam, misalnya karena ada penyakit yang sedang di derita seperti diabetes, hipertensi atau jantung atau bisa juga karena faktor psikologis dan situasional yang menyebabkan penis kesulitan ereksi. Salah satu penyebab disfungsi ereksi atau impotensi lain adalah mengkonsumsi minuman beralkohol, terutama pada penggunaan alkohol dalam jangka panjang.
Ereksi penis tidak terjadi otomatis melainkan melalui mekanisme tubuh yang cukup rumit dan melibatkan banyak sistem di dalam tubuh termasuk hormon dan sistem syaraf. Penis dipersyarafi oleh syaraf otonom (parasimpatis dan simpatis) dan syaraf somatis. Syaraf-syaraf simpatis dan parasimpatis berasal dari otak (hipotalamus) menuju penis melalui sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Syaraf ini memasuki penis dan mempersyarafi coropora cavernosa terutama otot-otot polos di trabekel. Syaraf inilah yang memegang peran untuk relaksasi otot-otot polos sehingga terjadi pengisian darah ke corpora cavernosa untuk menimbulkan ereksi. Bila terjadi kerusakan di sistem syaraf ini, maka akan langsung mengalami disfungsi ereksi yang sulit disembuhkan.
Sementara itu, syaraf somatis bertugas membawa impuls atau rangsangan dari otak menuju penis. Bila tubuh menerima rangsangan seksual baik itu rabaan ataupun khayalan erotis maka sistem syaraf akan menerima impuls tersebut dan sebagai hasilnya penis akan ereksi. Adanya gangguan pada kinerja syaraf somatis akan menghambat respon organ seks terhadap rangsangan yang diterima menyebabkan ereksi penis sulit terjadi.

Alkohol: Efek Pada Tubuh

Alkohol adalah depresan sistem saraf dan benar-benar dapat memblokir impuls saraf dan menghambat komunikasi antara otak dengan tubuh. Itulah sebabnya mengapa orang yang mabuk karena alkohol sering bicara cadel, mengalami ledakan emosional dan kesulitan berjalan. Karena sistem syaraf tidak berfungsi normal maka organ tubuh kehilangan orientasi . Konsumsi alkohol dalam jumlah banyak ataupun sedikit akan mempengaruhi sistem saraf, menyebabkan refleks lambat dan pikiran kosong.
Menurut Mayoclinic, pemakaian alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan parut pada hati, tekanan darah tinggi dan peningkatan risiko beberapa jenis kanker. Meskipun beberapa pendapat mengatakan bahwa minum moderat, satu sampai dua gelas sehari dari setiap jenis alkohol, dapat meningkatkan kesehatan jantung, tapi itu pun masih dalam perdebatan banyak ahli kesehatan.

Alkohol: Efek Pada Kinerja Seksual

Alkohol sering disebut sebagai salah satu zat afrodisiak karena dapat meningkatkan birahi atau hasrat seksual bagi yang meminumnya. Masalah yang sering muncul pada orang yang meminum alkohol sebelum berhubungan seks adalah gagal dalam “eksekusi”.
Untuk mendapatkan ereksi yang keras, darah harus masuk dengan lancar ke dalam penis dan mengalir keluar dengan lambat. Ketika banyak darah mengisi ruangan dalam jaringan pembuluh darah penis,  maka pembuluh darah balik yang memiliki tugas mengantar darah dari penis kembali menuju  ke jantung akan tersumbat. Dan sebagai akibatnya, darah di dalam jaringan penis akan tertahan beberapa waktu menyebabkan penis ereksi dengan keras. Dengan mekanisme seperti itu, kondisi ereksi penis dapat terus dipertahankan.
Dalam jangka pendek, berlebihan konsumsi minuman beralkohol akan menyebabkan pembuluh darah di penis membesar dan memungkinkan aliran darah masuk lebih banyak. Tetapi zat dalam alkohol juga mencegah pembuluh darah balik menutup, akibatnya penis dapat menjadi tegak dan keras tetapi tidak dapat bertahan lama karena pembuluh darah balik yang bertugas mencegah darah keluar tidak bekerja dengan baik.
Konsumsi alkohol dalam jangka panjang dan berlebihan akan merusak pembuluh darah dan berkontribusi terhadap munculnya penyakit hipertensi dan bahkan penyakit jantung, dimana kedua penyakit tersebut adalah jenis penyakit yang berkontribusi langsung terhadap munculnya disfungsi ereksi atau impotensi.
Minuman beralkohol memiliki dampak negatif bagi kesehatan seksual pria seperti disfungsi ereksi. Meskipun pada pria sehat, konsumsi alkohol moderat seharusnya tidak menyebabkan disfungsi ereksi, tapi cepat atau lambat, tubuh yang sehat akan menjadi lemah, alkohol menjadi salah satu zat yang mempercepat melemahnya kondisi tubuh. Oleh karena itu, salah satu cara mencegah terjadinya disfungsi ereksi atau impotensi pada pria adalah dengan menghindari konsumsi alkohol.

Sunday, September 9, 2012

5 Tanda Jantung Anda Bermasalah

By Unknown | At 10:20 AM | Label : | 0 Comments

Di antara Anda, pasti ada yang pernah membaca tanda-tanda atau gejala serangan jantung dari berbagai literatur. Di antaranya sekian banyak gejala, nyeri dada dan rasa sesak merupakan tanda yang paling populer dari serangan jantung. Tetapi, bagaimana dengan tanda-tanda lain yang penting untuk ketahui guna mengantisipasi gangguan jantung?

Para pakar jantung menyebutkan, gejala-gejala sakit jantung sebenarnya bisa tampak dari keluhan di banyak bagian tubuh. "Jantung, bersama dengan pembuluh arteri yang menyokongnya adalah salah satu otot yang besar.  Ketika jantung mengalami kegagalan, gejala-gejalanya bisa terlihat di banyak bagian tubuh," kata Jonathan Goldstein, kardiolog dari St. Michael's Medical Center di Newark, New Jersey.
Berikut ini adalah lima petunjuk tersembunyi yang bisa menjadi penanda munculnya gangguan pada jantung. Apabila Anda mengalami dua atau lebih gejala seperti dibawah ini secara bersamaan, Goldstein menganjurkan untuk segera pergi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut :

1. Nyeri leher
Apakah Anda pernah merasa nyeri otot yang berkepanjangan pada bagian leher? Waspadai bila nyeri in tak kunjung hilang. Pascaserangan jantung, beberapa pasien mengingat kalau mereka sebelumnya merasakan nyeri dan tegang pada leher. Mereka seringkali tak memperhatikan gejala ini karena mereka hanya fokus pada gejala-gejala yang lebih dramatis seperti nyeri akut di sekitar dada, bahu, dan lengan.
"Perempuan khususnya lebih kecil kemungkinannya mengalami gejala seperti ini, dan lebih mungkin untuk merasa nyeri mendadak disertai  rasa sesak di bagian bahu dan bagian bawah leher," kata Margie Latrella, seorang perawat dan juga penulis dari Women Cardiology Center, New Jersey. Rasa sakit juga dapat merambat ke sisi kiri bagian tubuh, bahu kiri dan lengan.

Apa yang terjadi?  Saraf dari jaringan jantung yang rusak mengirimkan sinyal rasa sakit yang naik turun pada ruas tulang belakang yang dalam waktu bersamaan merambat ke saraf-saraf di sekitar leher dan bahu.

2. Problem seksual
Pria dengan gangguan ereksi biasanya mempunyai masalah dengan penyakit pembuluh darah koroner. Survei terhadap pria di Eropa menunjukkan, mereka yang dirawat karena penyakit jantung dua dari tiga di antaranya menderita disfungsi ereksi selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya didiagnosis memiliki masalah dengan jantung. Menurut Goldstein, beberapa penelitian terbaru yang menguji hubungan antara disfungsi ereksi dan penyakit kardiovaskuler juga semakin meyakinkan. Tak heran bila kini para dokter  mempertimbangkan untuk juga mengatasi masalah kardiovaskuler ketika pria mengeluhkan disfungsi ereksi. 

"Dalam beberapa tahun terakhir, telah ada bukti yang cukup jelas bahwa ada risiko substansial peningkatan serangan jantung dan kematian pada pasien dengan disfungsi ereksi," kata Goldstein.

Apa yang terjadi ? Seperti halnya pembuluh darah di sekitar jantung yang dapat menyempit dan mengeras, hal sama juga dapat terjadi pada pembuluh yang meyuplai darah ke bagian penis. Karena pembuluh darah di sekitar penis lebih kecil, pembuluh-pembuluh ini bisa mengalami kerusakan yang lebih cepat  -- bahkan tiga atau empat tahun lebih cepat sebelum penyakit jantung terdeteksi.

3. Pusing, pingsan, atau sesak napas
Sebuah studi yang dipublikasikan Circulation: Journal of the American Heart Association, menyebutkan lebih dari 40 persen perempuan melaporkan bahwa mereka cenderung mengalami sesak napas di saat sebelum terjadinya serangan jantung. Anda mungkin akan merasakan  tak bisa bernafas, lemas atau pusing serasa berada di ketinggian.  Bila Anda tergopoh-gopoh ketika naik tangga, menyapu halaman, berjalan  santai, atau aktivitas lain yang sebelumnya tak membuat Anda kesulitan, gejala ini perlu diwaspadai sebagai peringatan penting.

Apa yang terjadi ? Ini akibat tidak cukupnya darah mengalir pada pembuluh yang mengangkut oksigen ke jantung. Nyeri pada otot jantung atau angina juga bisa membuat seseorang merasakan sulit menarik nafas dalam. Penyakit pembuluh darah koroner, di mana  pembuluh darah jantung tersumbat akibat penumpukan plak, menyebabkan organ jantung tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Sensasi mendadak tak bisa bernafas dalam seringkali menjadi pertanda angina, salah satu jenis nyeri pada otot jantung. 

4. Gangguan pencernaan, mual, atau heartburn


Walaupun kebanyakan dari kita berpikir kondisi yang berhubungan dengan jantung identik dengan nyeri pada dada, tetapi sebenarnya hal ini dapat terjadi juga di bagian perut. Pada beberapa orang khususnya wanita, gejala seperti heartburn atau perasaan terbakar pada bagian dada, sesnsasi perut kekenyangan atau tersedak perlu diwaspadai.  Gangguan pencernaan yang parah dan mual juga dapat menjadi tanda awal serangan jantung, atau biasa disebut infark miokard, khususnya pada wanita. Sebuah penelitian menunjukkan, perempuan dua kali lebih mungkin mengalami muntah, mual, dan gangguan pencernaan selama beberapa bulan menjelang serangan jantung.

Apa yang terjadi ? Timbunan lemak di pembuluh darah dapat mengurangi atau menurunkan suplai darah ke jantung sehingga menimbulkan perasaan seperti sesak, tertindih atau nyeri - yang kebanyakan terjadi di daerah dada tetapi terkadang juga di bagian perut. Tergantung dari bagian jantung mana yang terkena, hal itu akan memberikan sinyal ke seluruh tubuh. Mual dan pusing-pusing juga dapat menjadi pertanda bahwa serangan jantung sedang terjadi. Oleh sebab itu, segera panggil dokter Anda bila keluhan tersebut terus dialami.

5. Sakit pada rahang dan telinga

Sakit pada rahang adalah sesuatu yang terkadang misterius dan sangat mengganggu. Kondisi ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, tetapi terkadang bisa menjadi petunjuk adanya penyakit pembuluh darah koroner (CAD) dan awal serangan jantung. Beberapa ahli kini sedang fokus meneliti hubungan sakit pada rahang dengan risiko serangan jantung. Hasil survei menunjukkan, banyak pasien pasca serangan jantung melaporkan sakit pada rahang mereka menjelang terjadinya serangan jantung.

Apa yang terjadi ? Kerusakan pada jaringan organ jantung dapat memicu pengiriman sinyal naik turun pada bagian tulang belakang yang kemudian meluas pada sarar-saraf yang tersebar dari mulai tulang leher, rahang hingga ke bagian telinga.

Friday, September 7, 2012

Pusing Saat Berdiri, Tanda Jantung Bermasalah

By Unknown | At 10:18 AM | Label : | 0 Comments


Sebuah riset terbaru mengindikasikan, seseorang yang mengalami sakit kepala atau pusing ketika berdiri yang disebabkan tekanan darah turun secara tiba-tiba, memiliki risiko lebih besar mengalami gagal jantung. Dalam istilah medis kondisi ini umumnya dikenal sebagaihipotensi ortostatik.

Penelitian mengindikasikan, mereka yang memiliki hipotensi ortostatik berisiko 54 persen lebih mungkin mengalami gagal jantung ketimbang rekan-rekan mereka yang tidak memiliki tekanan darah rendah ketika berdiri. Sementara pada orang dengan hipertensi risikonya cenderung berkurang menjadi 34 persen. 

"Beberapa faktor risiko dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengembangkan gagal jantung, termasuk tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, diabetes dan hipotensi ortostatik," jelas peneliti, Dr Christine DeLong Jones dari University of North Carolina, Chapel Hill. 

Gagal jantung adalah suatu keadaan dimana jumlah darah yang dipompa oleh jantung setiap menitnya tidak mampu memenuhi kebutuhan normal tubuh. U.S. National Heart, Lung and Blood Institutemencatat hampir sekitar 5,7 juta orang di Amerika Serikat mengalami gagal jantung, dan sekitar 300.000 orang meninggal setiap tahunnya.

Peneliti mengaku tidak tahu persis bagaimana hipotensi ortostatik dapat menyebabkan gagal jantung. "Kami berspekulasi bahwa hipotensi ortostatik dan tekanan darah tinggi dapat menyebabkan resiko gagal jantung melalui jalur yang sama, seperti misalnya ketika hipertensi terjadi saat orang sedang tidur," tambahnya.

Dalam riset terbarunya, para peneliti melibatkan lebih dari 12.000 peserta (usia 45-64 tahun) dari empat wilayah di AS. Hampir 11 persen orang yang mengembangkan gagal jantung selama sekitar 17,5 tahun masa studi diketahui memiliki hipotensi ortostatik pada awal penelitian. Sementara mereka yang tidak memiliki hipotensi ortostatik hanya 4 persen yang mengembangkan gagal jantung.  

Hubungan antara hipotensi ortostatik dan gagal jantung terlihat jelas di antara orang yang berusia 45-55 tahun. Temuan dipublikasikan pada 19 Maret 2012 dalam Hypertension.

Peneliti mengatakan, orang dengan hipotensi ortostatik yang juga memiliki hipertensi harus mengambil langkah mengontrol tekanan darah, dan memastikan kondisi jantung mereka dalam keadaan sehat.

Para ilmuwan berspekulasi, hipotensi ortostatik mungkin menjadi indikator awal perkembangan aterosklerosis - penumpukan plak di arteri - yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Namun, studi ini tidak menunjukkan bahwa hipotensi ortostatik sebagai penyebab dari gagal jantung.

Sementara itu dr Robert Myerburg, profesor kardiologi dari University of Miami Miller School of Medicine mengatakan, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa hipotensi ortostatik sebagai faktor risiko untuk gagal jantung.

"Hipotensi ortostatik dapat menyebabkan menyebabkan hilangnya kesadaran yang berujung pada kecelakaan, tapi ini bukan sesuatu yang menyebabkan serangan jantung," katanya.

Myerburg juga menyarankan untuk mengonsumsi lebih banyak cairan, khususnya untuk orang dengan hipotensi ortostatik. "Jika tidak mengganggu atau tidak menyebabkan gejala yang signifikan, Anda tak perlu mengobatinya," tambahya.

Di sisi lain, dr Tara Narula, seorang ahli jantung dari Lenox Hill Hospital, New York City, mengatakan bahwa temuan apa pun yang dapat membantu untuk mendiagnosa gagal jantung lebih dini akan sangat bermanfaat.
"Ini merupakan temuan yang menarik, dan jika hipotensi ortostatik terbukti menjadi sebab atau menyebabkan gagal jantung, kita mungkin bisa mengidentifikasi gagal jantung lebih awal dari yang kita bisa sekarang."

Wednesday, September 5, 2012

Penyakit Jantung, Sesuatu yang Bisa Dihindari

By Unknown | At 10:15 AM | Label : | 0 Comments


Penyakit jantung sering dianggap sebagai penyakit orang berumur. Tetapi, orang muda tidak boleh mengabaikannya karena penyakit ini terjadi akibat penyempitan pembuluh darah yang terjadi selama puluhan tahun akibat gaya hidup modern.
Kebanyakan penyakit jantung terjadi akibat penyempitan pembuluh darah koroner. Lantas, apa yang menyebabkan arteri ini menyempit? "Penyebabnya yang utama adalah gaya hidup kita," kata Prof.Budhi Setianto, Sp.JP, dari RS.Jantung Harapan Kita, di sela acara press conference Cintai HIdup Cintai Jantung yang digelar Quaker Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu.
Sejatinya, banyak yang bisa kita perbuat untuk memperlambat bahkan mencegah penyakit jantung koroner dengan pola hidup sehat. Salah satunya melalui pola makan.
"Pola makan menjadi salah satu kunci utama menjaga kadar kolesterol agar jantung tetap sehat. Salah satunya adalah mengonsumsi secara rutin bahan pangan kaya serat, terutama serat larut untuk menurunkan kolesterol," kata Budhi.
Mari kita simak beberapa kiat dari para ahli untuk menjaga jantung tetap sehat dan dapat bekerja optimal.
1. Berhenti merokok
Mungkin ini adalah langkah terbaik yang bisa Anda lakukan untuk mencegah penyakit jantung. Para perokok yang sudah setahun berhenti merokok, risikonya berkurang hingga setengahnya untuk terkena serangan jantung. Setelah 15 tahun berhenti merokok, risiko Anda untuk mati karena penyakit jantung sama seperti orang-orang yang tidak pernah merokok. Selain itu, berusahalah agar tidak menjadi perokok pasif.
2. Olahraga teratur
Ada banyak alasan mengapa olahraga menyehatkan jantung. Pertama, olahraga rutin akan menurunkan kolesterol dan tekanan darah. Anda juga bisa memperoleh berat badan yang ideal dari kegiatan ini. Berolahragalah minimal 30 menit setiap hari.
3. Kurangi kolesterol Jika pola makan Anda dipenuhi oleh makanan-makanan yang kaya lemak dan kaya kolesterol, maka hasil tes kolesterol darah total Anda mungkin sekali di atas normal. Upayakan agar kolesterol Anda di bawah 200 mg/dl. Dr.Pauline Endang Praptini, Sp.GK, mengatakan konsumsi 70 gram serat larut seperti oatmeal secara rutin terbukti menurunkan kadar kolesterol.
4. Turunkan tekanan darah
Tekanan darah tinggi sering dijuluki pembunuh diam-diam. Tekanan darah tinggi akan memberikan beban sangat berlebihan kepada jantung dan arteri hingga akhirnya dapat mengundang serangan jantung, selain stroke. Salah satu cara menormalkan tekanan darah adalah dengan mengurangi natrium (garam) dari pola makan Anda.
5. Kendalikan stres
Stres bisa membuat jantung Anda menderita. Ada banyak cara untuk meredakan stres, misalnya olahraga, istirahat, menarik napas panjang, meditasi, atau yoga.

Monday, September 3, 2012

Hubungan Batuk dan Penyakit Jantung

By Unknown | At 10:13 AM | Label : | 0 Comments


Tak sedikit di antara Anda yang mungkin pernah bertanya apakah ada hubungan antara batuk dan penyakit jantung? Sekilas, dua kondisi ini sepertinya hal yang berbeda karena batuk berkaitan dengan organ pernafasan seperti tenggorokan dan paru-paru, sedangkan panyakit jantung jelas merupakan gangguan yang dialami organ vital yang memompa darah ke seluruh tubuh.

Namun pada kenyataannya, jantung dan paru adalah organ yang saling berkaitan. Demikian pula halnya dengan batuk dan penyakit jantung. Seperti dipaparkan dalam Mayo Clinic Family Health Book, batuk merupakan salah satu pertanda adanya gangguan pada jantung.   Berikut adalah sekilas penjelasan antara hubungan batuk dan penyakit jantung : 

Batuk pada dasarnya adalah tindakan refleks naluriah atau mekanisme kerja tubuh untuk mengusir benda asing yang dapat mengiritasi saluran pernapasan. Bahkan, produksi lendir (ketika batuk) merupakan sebuah mekanisme perlindungan yang digunakan untuk tujuan yang sama. Namun, batuk yang keras dan terus-menerus (kronis) bisa disebabkan karena penyakit tertentu dan tidak boleh dianggap enteng.
Batuk kronis umumnya menjadi sebuah indikasi adanya infeksi saluran pernafasan. Tapi hal itu mungkin juga memiliki kaitan dengan penyakit jantung. 

Umumnya, batuk diderita oleh mereka yang menderita saluran pernapasan atas atau bawah. Sebelum paru-paru dapat melaksanakan fungsi pertukaran oksigen dan karbon dioksida, udara yang kita hirup, terlebih dahulu melewati komponen dari sistem pernapasan seperti rongga hidung, faring, laring, tenggorokan, dan saluran bronkial. 

Organ-organ pernapasan bisa meradang jika kita menghirup iritan seperti debu, bahan kimia, asap, atau penyebab penyakit mikroba. Kondisi ini mendorong sistem kekebalan tubuh untuk mengusir iritasi tersebut dengan lendir. Sistem kerja organ dari tubuh manusia bekerja secara kolektif. Begitu pula antara sistem pernapasan dan sistem peredaran darah, di mana jantung merupakan organ utamanya. 

Jantung adalah organ pemompa yang memasok darah terdeoksigenasi ke paru-paru, yang kemudian dibawa pembuluh darah ke seluruh bagian tubuh. Jika kemampuan memompa jantung terganggu atau terserang penyakit, hal ini akan menimbulkan kongesti paru. Cairan di dalam paru-paru dan jantung dapat menimbulkan gejala seperti batuk, sesak napas atau tersengal-sengal.

Batuk dan gagal jantung


Untuk memahami hubungan antara batuk dan sakit jantung, Anda harus terlebih dahulu mengerti bagaimana jantung bekerja. Jantung manusia terbagi menjadi empat ruang (atrium kanan, ventrikel kanan, atrium kiri dan ventrikel kiri). 

Melemahnya miokardium atau otot jantung akibat penyakit arteri koroner adalah salah satu penyebab paling umum dari gagal jantung kongestif. Penyakit jantung koroner ditandai dengan terbatasnya aliran darah ke jantung karena penumpukan plak arteri. Meskipun hal ini menyebabkan otot jantung melemah, sehingga meningkatkan risiko gagal jantung kongestif, penebalan otot jantung karena tekanan darah tinggi juga dapat menyebabkan efek yang sama.
 
Penyakit arteri koroner juga meningkatkan risiko serangan jantung. Serangan jantung adalah suatu kondisi yang mengancam jiwa di mana penyumbatan arteri koroner menyebabkan kerusakan pada bagian dari otot jantung. Sesak napas, batuk terus-menerus, nyeri dada dan edema adalah gejala karakteristik dari gagal jantung kongestif.

Gagal jantung dapat terjadi pada salah satu sisi bagian jantung, misalnya gagal jantung bagian sisi kiri atau gagal jantung bagian sisi kanan. Jika gagal jantung terjadi pada pompa bilik kiri jantung, maka darah akan mengumpul dan menumpuk di paru (kongesti). Kongesti inilah yang menimbukan sesak napas dan batuk. Akibatnya, kantung udara sebagai tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida bisa terisi dengan cairan, sehingga mengganggu fungsi paru-paru.
Batuk, mengi dan sesak napas adalah gejala umum dari pulmonary edema (edema paru). Edema paru adalah penumpukan abnormal cairan dalam kantung udara paru-paru yang menyebabkan sesak napas. 

Sementara serangan batuk dapat berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan, alergi, asma atau gangguan paru-paru. Dalam beberapa kasus, gagal jantung kongestif mungkin sebenarnya bertanggung jawab sebagai penyebab batuk kronis. Mereka yang mengalami gejala seperti batuk dan sakit jantung harus mendapatkan pemeriksaan medis secara menyeluruh untuk menegakkan hasil diagnosa.

Sunday, September 2, 2012

Ibu Perokok Lahirkan Bayi Penderita Asma

By Unknown | At 8:38 PM | Label : , | 0 Comments
Diambil dari Liputan6.com, Stockholm: Informasi ini bisa menjadi perhatian buat Ibu hamil yang tetap merokok. Studi terbaru menyatakan, sekitar 65 persen bayi yang lahir dari ibu perokok bakal menderita penyakit asma. Dampak terparah akan terjadi saat ibu hamil yang merokok di tiga bulan awal masa kehamilan, yang memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan si bayi.

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine ini, sebanyak 21.600 anak terungkap menderita sesak napas terkena asma karena semasa hamil ibu mereka suka merokok. Suara bengek dan bunyi pernapasan akan terus terdengar dari bayi penderita asma karena gangguan pada saluran pernapasan.

"Anak berpotensi terkena asma pada masa balita dan usia dini," ujar peneliti asal Sekolah Tinggi Karolinska di Stockholm, Swedia, Dr Asa Neuman.

"Penelitian kami menegaskan, merokok selama kehamilan menimbulkan risiko besar pada kesehatan janin yang berkembang dalam rahim. Biasanya napas berdenging pada usia prasekolah," tambahnya.

Kendati demikian, dampak tersebut tidak ditemukan bagi ibu yang merokok pada masa kehamilan tua ataupun setelah melahirkan. Tetapi, sang ibu mesti tetap waspada. Sebab, penelitian sebelumnya menyatakan bahwa merokok semasa hamil bisa merusak struktur DNA bayi dan melemahkan sistem kekebalan tubuh bayi. (FRD)

Saturday, September 1, 2012

Ubah Pola Hidup, Jantung Koroner Menjauh

By Unknown | At 10:10 AM | Label : | 0 Comments

Penyakit jantung koroner tidak hanya menyerang orangtua, tetapi sudah mulai menyerang mereka yang baru berusia 30 tahun. Tentu saja, ini tidak mengherankan karena kita sudah terbiasa dengan pola hidup tidak sehat sejak kecil.

Demikian diungkap Dr. Pauline Endang Praptini M.S. pakar kesehatan gizi klinis dari R.S. Fatmawati Jakarta, Jumat (22/5). "Pasien PJK yang datang kepada saya mulai umur 30 tahun - 70 tahun, sebagaian besar di antaranya masih muda-muda," kata Pauline. 

Menurut Pauline, penyebab utama PJK adalah tingginya kolesterol dalam tubuh. Penyebab lain adalah diabetes melitus, hipertensi, jarang olah raga, obesitas, merokok, dan kebiasaan mengkonsumsi makanan yang kadar lemaknya tinggi namun rendah serat.

PJK mesti disikapi sejak dini karena proses penyumbatan pembuluh darah sudah mulai terjadi sejak kita mulai mengonsumsi daging dan goreng-gorengan. Menurut Pauline proses ini makin menjadi ketika kita menerapkan pola hidup tidak sehat seperti sering makan makananan cepat saji, minum soft drink, minum gula terlalu banyak tidak diimbangi dengan air putih dan jarang olahraga. "Soft drink itu memicu pankreas memroduksi insulin berlebih sehingga pankreas dipaksa bekerja keras. Lama-lama pakreas rusak, dengan demikian kadar gula meninggi karena insulinnya berkurang," terang Pauline.

Untuk itu, sangat perlu dan mendesak mengubah pola hidup yang sehat. Tidur 8 jam, makan-makanan berserat, berolahraga secara teratur, tidak merokok, menurunkan berat badan, menekan kadar kolesterol <200 mg/Hr., serat 10-25gr/Hr., asam lemak jenuh < 7 persen kalori total menjadi syarat mutlak agar bebas dari PJK.
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Berita Kesehatan Terkini - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz