>

Monday, June 17, 2013

Ayah Gemuk Cenderung Punya Anak-anak yang Gemuk Juga

By Unknown | At 2:13 AM | Label : | 0 Comments

Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Connect with Facebook

Ohio , Anak kecil dengan tubuh montok memang menggemaskan. Tapi hati-hati jangan sampai kebablasan memiliki berat badan berlebihan saat sudah dewasa, karena memicu munculnya berbagai penyakit. Bukan hanya karena pola makan, badan gemuk pada anak-anak juga dipengaruhi oleh badan sang ayah yang juga gemuk.

Tren ayah berbadan gemuk cenderung punya anak gemuk dilihat para ilmuwan dari tikus-tikus percobaan. Mereka yakin efek yang sama terjadi pada manusia, sehingga dilakukan investigasi proses biologi. Demikian dikutip dari AFP, Senin (17/6/2013).

Penelitian menunjukkan adanya gen bawaan yang turut mempercepat atau memperlambat metabolisme. Nah, tikus yang berasal dari ayah yang gemuk, berat badannya bertambah cukup signifikan sejak usia 6 pekan meskipun diberi makan makanan yang rendah lemak dan sehat.

Dari penelitian diketahui pula bahwa tikus jantan memiliki pola komposisi lemak yang berbeda. Komposisi lemak yang berbeda ini bisa mempengaruhi kerentanan penyakit, meskipun tikus tersebut memiliki ayah dengan berat badan normal.

"Kami telah mengidentifikasi sejumlah sifat yang dapat mempengaruhi metabolisme dan perilaku yang tergantung pada makanan yang dimakan sebelum tikus menjadi ayah (diet prakonsepsi)," kata pemimpin studi, Dr Felicia Nowak, dari Ohio University, Amerika Serikat.

Dalam penelitian tersebut, hanya ayah tikus yang diberi makanan tinggi lemak. Sedangkan ibu tikus diberi makanan rendah lemak sehingga tidak mengalami kelebihan berat badan.

Penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya. Di mana penelitian sebelumnya lebih fokus pada ibu sebagai pihak yang paling mempengaruhi obesitas pada anak.

Yang mengejutkan, di usia tertentu para tikus jantan yang gemuk ini lebih aktif secara fisik. Pada usia 6 pekan, tikus jantan melakukan lebih banyak lari. Padahal kegiatan ini dilakukan tikus-tikus betina yang merupakan saudari mereka sendiri di usia 6 bulan.

Peneliti percaya perilaku ini kemungkinan dilakukan sebagai upaya untuk membakar lemak berlebih guna mengurangi risiko penyakit diabetes dan penyakit jantung.

Keterkaitan berat badan berlebih ayah pada anaknya juga pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian tersebut menyebut obesitas pada ayah bisa meningkatkan risiko si bayi terkena kanker di kemudian hari. Penyebabnya ada pada DNA ayah yang menurun ke bayi.

Penelitian yang diterbitkan Britis Medical Journal ini menganalisis sel-sel janin dari darah tali pusarnya. Hasilnya menemukan bahwa bayi yang lahir dari ayah obesitas mengalami penurunan jumlah metilasi DNA Insulin-like Growth Factor 2 (IGF2) dalam selnya.

IGF2 merupakan faktor pertumbuhan yang penting selama perkembangan janin. Adanya pertumbuhan yang tidak normal pada gen ini telah diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko kanker.

(vit/up)

17 Jun, 2013


-
Source: http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656114/s/2d61aab3/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A130C0A60C170C140A6160C22755860C7630Cayah0Egemuk0Ecenderung0Epunya0Eanak0Eanak0Eyang0Egemuk0Ejuga/story01.htm
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Stres Bisa Berdampak pada Pria dalam 7 Hal Ini

By Unknown | At 2:13 AM | Label : | 0 Comments

Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Connect with Facebook

Jakarta, Pria dan wanita tak hanya berbeda karena bentuk fisik. Tapi perbedaan gender itu juga membedakan berbagai hal, mulai dari gejala dan risiko penyakit, efektivitas obat hingga besarnya dampak dari stres yang ditanggung keduanya. Namun pria dapat dikatakan menanggung beban yang lebih berat akibat stres.

Pasalnya, "Ketika 'fight and flight response' ini diaktifkan (pada kedua jenis kelamin), tubuh berada dalam moda gawat darurat dan bergegas mengurus kebutuhan akut dan mendesak yang dibutuhkan oleh tubuh dan hanya terfokus pada pemberian energi ke otot-otot tubuh," kata Christy Matta, MA, penulis buku 'The Stress Response'.

"Sebaliknya kita akan mengabaikan sistem kekebalan atau sistem reproduksi. Jadi saat stres, pelepasan testosteronenya tertahan, begitu pula dengan bagian dari sistem reproduksi lainnya. Apalagi jika stresnya terjadi secara berulang-ulang, kerusakan pada tubuh pun akan semakin menjadi-jadi," tambahnya.

Tak hanya itu, stres juga memberikan dampak lain terhadap kesehatan pria yang tak dapat diabaikan. Berikut paparannya seperti dikutip dari Huffingtonpost, Senin (17/6/2013).

1. Mengurangi daya tarik wajah
Testosterone telah lama dikaitkan dengan sistem kekebalan yang kuat dan daya tarik wajah pada pria. Ketika tim peneliti dari University of Aberdeen, Skotlandia meminta sejumlah wanita menilai tingkat daya tarik 94 pria, ditemukan bahwa pria-pria yang kadar hormon stresnya (kortisol) rendah tapi testosteronenya tinggi dikatakan sebagai pria yang paling atraktif alias menarik.

Sebaliknya, pria yang kadar kortisolnya tinggi tentu saja dinilai kurang menarik. Dari situ studi ini mengatakan bahwa kortisol berperan dalam menghambat pelepasan testosteron yang dapat menjadi daya tarik calon pasangan.

2. Risiko sakit jantung karena stres turunan
Sudah banyak studi yang mengungkapkan bahwa stres adalah faktor risiko penyakit jantung, tapi yang mengejutkan stres turunan pun juga meningkatkan risiko sakit jantung dini (pada keturunannya).

Baru-baru ini sebuah studi dari Henry Ford Hospital, AS pun menemukan bahwa pria dengan riwayat penyakit jantung cenderung didiagnosis sakit jantung rata-rata 12 tahun lebih awal daripada pria yang tak ada riwayat sakit jantung dalam keluarganya.

Para pria yang riskan ini juga cenderung memiliki skor gejala stres yang lebih tinggi (berdasarkan evaluasi terhadap tingkat kekhawatiran, ketidaksabaran, kemarahan dan gejala stres lainnya) dibandingkan pria dengan keluarga yang tidak memiliki riwayat sakit jantung. Hal ini membuat peneliti menduga bahwa kerentanan seseorang terhadap stres itu bersifat menurun.

3. Mengubah DNA sperma dan perkembangan anak
Dari sebuah penelitian pada hewan menunjukkan bahwa stres kronis bisa jadi berasal dari perubahan ekspresi gen pada sperma seorang ayah dan perubahan itu bisa termanifestasi kepada keturunannya, terutama kaitannya dengan reaksi mereka terhadap stres.

"Temuan ini juga menunjukkan bahwa paparan stres pada ayah tampaknya berkaitan dengan penyakit neuropsikiatri tertentu," kata peneliti Tracy L. Bale, Ph.D.

4. Mempercepat perkembangan kanker prostat
Baru-baru ini peneliti menemukan dari pengamatan terhadap sekelompok tikus bahwa stres kronis dapat mempercepat perkembangan kanker prostat.

Untuk itu, studi dari University of California mengatakan bahwa manajemen stres dapat berdampak positif terhadap pria pengidap kanker prostat.

5. Disfungsi ereksi
WebMD mengatakan bahwa 10-20 persen kasus disfungsi ereksi dikaitkan dengan faktor psikologis seperti stres, gelisah dan depresi.

Robert M. Sapolsky, Ph.D., profesor neurologi dari Stanford pun menjelaskan bahwa gairah seksual ditentukan oleh menyala tidaknya sistem saraf parasimpatetik pada seseorang. Dan stres diketahui sebagai salah satu faktor yang dapat mematikan sistem ini.

6. Menurunkan jumlah sperma
Stres dan kecemasan berperan cukup besar dalam kesuburan pria. Salah satu studi dari Italia yang menemukan hal ini mengatakan bahwa pria yang stres melakukan lebih sedikit ejakulasi serta memiliki jumlah dan konsentrasi sperma yang lebih sedikit dibandingkan pria yang tidak stres.

Stres juga dikatakan berkorelasi positif terhadap kecacatan sperma maupun sperma yang malas bergerak.

7. Terkucil dari masyarakat
Dari sebuah studi yang dilakukan tim peneliti University of Southern California pada tahun 2010 ditemukan bahwa pria yang stres cenderung memperlihatkan lebih sedikit aktivitas di bagian otak yang bertugas memahami perasaan orang lain. Respons otak mereka terhadap ekspresi wajah orang lain, terutama yang berhubungan dengan rasa takut atau kemarahan juga lebih rendah. Pada wanita, hal ini berlaku sebaliknya.

"Itulah mengapa saat stres, pria cenderung menarik diri dari orang-orang di sekitarnya, sebaliknya wanita justru mencari dukungan emosional," tandas peneliti Mara Mather, direktur Emotion and Cognition Lab, USC.


(vit/vit)

17 Jun, 2013


-
Source: http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656114/s/2d61b47d/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A130C0A60C170C1330A460C22755360C7630Cstres0Ebisa0Eberdampak0Epada0Epria0Edalam0E70Ehal0Eini/story01.htm
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Apakah Banyak Minum Air Putih Bisa Menyebabkan Kegemukan?

By Unknown | At 2:13 AM | Label : | 0 Comments

Konsultasi Kesehatan Bersama

Leona Victoria Djajadi (Nutrisionis)


Leona Victoria Djajadi, Master of Nutrition and Dietetics (Ahli Gizi) yang bersekolah di program nutrisi University of Sydney. Dengan minat khusus pada program diet untuk oncology, cardiology, diabetes, gastrointestinal and life modification program diets.

Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Connect with Facebook

Jakarta, Assalamualaikum, saya mau tanya nih, apakah banyak minum air putih bisa menyebabkan kegemukan? Terimakasih.

Agus (Pria lajang, 26 tahun)
tambbun_XXXX@yahoo.com
Tinggi badan 177 cm, berat badan 80 kg

Jawaban

Waalaikumsalam Agus,

Minum terlalu banyak air pada manusia sehat normal tidak menyebabkan kegemukan. Namun bila mengonsumsi terlalu banyak garam, air yang diminum tidak bisa keluar dari tubuh sehingga mengendap dan menambah berat badan. Dari sini ada istilah 'gemuk air'.

Untuk mencegah hal ini terjadi maka harus mengurangi konsumsi garam agar sirkulasi air dapat kembali lancar.

Leona Victoria Djajadi MND
Master of Nutrition and Dietetics (Ahli Gizi) dari University of Sydney. Dengan minat khusus pada program diet untuk oncology, cardiology, diabetes, gastrointestinal and life modification program diets. Follow twitter @Leona_victoria.

(hrn/vta)

Punya Pertanyaan Seputar Kesehatan? Silahkan Klik di Sini

17 Jun, 2013


-
Source: http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656114/s/2d623cef/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A130C0A60C170C1412390C22755940C130A70Capakah0Ebanyak0Eminum0Eair0Eputih0Ebisa0Emenyebabkan0Ekegemukan/story01.htm
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tengah Dikembangkan, Pengobatan untuk Hentikan Penyebaran Sel Kanker

By Unknown | At 2:13 AM | Label : | 0 Comments

Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Connect with Facebook

London, Kanker adalah penyakit yang banyak menghantui manusia, lantaran di beberapa kasus berujung pada kematian. Untuk menghentikan penyebaran sel kanker, para ilmuwan pun mengembangkan pengobatan baru.

Adalah tim peneliti di University College London yang tengah melakukan percobaan guna menemukan penyebab sel kanker bisa bermigrasi dari satu bagian tubuh ke bagian lain. Tim yang diketuai oleh Prof Roberto Mayor ini percaya mereka mungkin telah menemukan kunci untuk mengembangkan obat yang dapat membantu menghentikan penyebaran sel kanker.

Para ilmuwan mengidentifikasi mekanisme yang disebut 'kejar dan tangkap' yang menunjukkan bagaimana sel yang sakit dan sehat mengikuti satu sama lain di seluruh tubuh. Mereka menggunakan katak dan embrio ikan zebra sebagai objek percobaannya.

"Tak ada yang tahu bagaimana hal ini terjadi, dan sekarang kami percaya kami telah menemukan itu. Jika itu terjadi maka akan relatif mudah untuk mengembangkan obat yang mengganggu interaksi ini," kata Prof Roberto Mayor, ketua tim peneliti seperti dikutip dari Telegraph, Senin (17/6/2013).

Penelitian ini memfokuskan pada mekanisme bagaimana sel penyakit yang merenggut 150.000 jiwa per tahun di Inggris ini bisa menyebar. Dalam penelitian ditemukan, bahwa peran sel kanker diambil oleh sel pial neural, bentuk umum dari sel induk yang akhirnya membentuk jaringan hewan. Sementara sel-sel placode membentuk bagian dari sel yang sehat yaitu saraf kranial.

Sel-sel placode pun tidak hanya menarik sel-sel saraf, tetapi juga sel-sel sehat yang mencoba 'melarikan diri'. "Kami menggunakan analogi keledai dan wortel untuk menjelaskan perilaku ini di mana keledai mengikuti wortel, tapi wortel bergerak menjauh ketika didekati oleh keledai," tambah Prof. Mayor.

Temuan ini menunjukkan adanya cara alternatif mengobati kanker yaitu dengan terapi yang dapat memutuskan proses interaksi antara sel-sel ganas dan sehat sehingga sel kanker yang menyebabkan tumor sekunder bisa berhenti menyebar. Menurut Prof. Mayor, sebagian besar kematian akibat kanker tidak disebabkan oleh pembentukan tumor primer, melainkan tumor sekunder yang berasal dari sel-sel ganas pertama yang dapat melakukan perjalanan dan menjajah organ vital tubuh seperti paru-paru dan otak.

Dr Kat Arney, Science Information Manager di Cancer Research UK, menyambut baik temuan ini, tetapi ia menyarankan untuk tetap berhati-hati.

"Penelitian ini membantu untuk mengungkapkan beberapa proses biologis fundamental yang mungkin berada di tempat sel-sel kanker bergerak dalam tubuh. Tetapi para ilmuwan hanya mengembangkan sel-sel pada katak dan embrio ikan zebra dan tidak dengan khusus fokus pada sel-sel kanker," kata Dr Arney

"Jadi masih perlu proses yang sangat panjang untuk memastikan apakah temuan ini dapat diterjemahkan ke dalam pengobatan baru untuk pasien kanker," imbuhnya.

Penelitian ini telah dipublikasikan di Nature Cell Biology.

(vit/vit)

17 Jun, 2013


-
Source: http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656114/s/2d622e29/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A130C0A60C170C1427130C22756160C7630Ctengah0Edikembangkan0Epengobatan0Euntuk0Ehentikan0Epenyebaran0Esel0Ekanker/story01.htm
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Bayi Menolak Menyusu? Begini Mengatasinya

By Unknown | At 12:11 AM | Label : | 0 Comments

Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Connect with Facebook

Jakarta, Agar produksi air susu ibu (ASI) lancar, berikanlah ASI pada bayi Anda setiap 2-3 jam. Nah, saat ibu mencoba menyusui bayinya, terkadang si kecil menolak menyusu. Jika hal ini terjadik, ibu tidak perlu panik.

"Untuk mengatasi bayi yang menolak menyusu, lakukan skin to skin contact yang sering di suasana yang tenang atau saat bayi tidak lapar," ujar dr Jeanne-Roos Tikoalu, Sp.A, IBCLC, dalam talkshow bertema 'Breastfeeding while Working' di RS Pondok Indah Puri Indah, Jl Puri Indah Raya Blok 52, Kembangan Selatan, Jakarta Barat, dan ditulis pada Senin (17/6/2013).

Jika bayi menangis, jangan dipaksa untuk menyusu. Bisa jadi bayi menangis bukan karena lapar, tetapi karena hal lain misalnya popoknya basah atau merasa kegerahan.

"Bila perlu, perah ASI dan berikan kepada bayi dengan menggunakan cangkir," sambung dr Jeanne.

Terkadang bayi enggan menyusu karena posisinya tidak nyaman. Karena itu ibu perlu mendapat bantuan untuk mendapatkan posisi dan perlekatan bayi yang benar.

"Posisi yang baik akan menjamin terjadinya pelekat yang baik pada payudara," imbuh dokter berkacamata ini.

Nah, posisi bayi yang benar pada saat menyusu adalah telinga, bahu, dan paha berada dalam satu garis lurus. Posisikan bayi dekat dengan ibu, dan bayi harus disangga seluruh badannya, jangan sampai bayi dibiarkan telentang sendiri. Sementara itu, muka bayi harus benar-benar menghadap ke payudara.

Bagaimana ciri pelekatan yang baik mulut bayi pada payudara ibu? Menurut dr Jeanne, mulut bayi akan terbuka lebar, bibir bawah terlipat keluar atau seperti dower, dagu menyentuh payudara, serta sebagian aerola bagian atas lebih terlihat dibanding aerola bawah.

"Pelekatan yang baik akan membuat ibu nyaman, tidak menimbulkan rasa nyeri, serta bayi menyusu secara efektif," terang dr Jeanne.

Menurut dr Jeanne, bayi sulit melekat apabila merasa tidak lapar, kedinginan, sakit, atau lemah. Selain itu juga dikarenakan posisi yang tidak benar, atau karena ibu bergerak menggoyangkan payudara dan bayi. Jika payudara terlalu keras atau aliran ASI yang terlalu deras, bayi juga akan sulit melekat.

Bayi juga akan sulit melekat ke payudara ibu jika mengalami nyeri mulut atau hidung buntu. Jika bayi pernah belajar mengisap dari dot juga bisa jadi mengalami kebingungan.

"Penyebab lain bayi sulit melakat karena tidak suka parfum atau sabun ibu, dan juga karena produksi ASI sedikit," jelas dr Jeanne.

Nah, tanda bayi menyusu dengan baik adalah selesai menyusu bayi akan melepaskan payudara ibu dan bayi tampak tenang. Ciri lainnya, bayi menyusu perlahan, kuat, kadang berhenti sejenak. Selain itu pipi bayi terlihat penuh dan dapat terdengar suara bayi menelan.

"Perlu kesabaran saat bayi belajar menyusu. Rawatlah bayi dengan lembut dan mantap," pesan dr Jeanne.

(vit/up)

17 Jun, 2013


-
Source: http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656114/s/2d607788/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A130C0A60C170C120A0A540C22753790C7640Cbayi0Emenolak0Emenyusu0Ebegini0Emengatasinya/story01.htm
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Usia Berapa Seseorang Terkena Risiko Penyakit Jantung Koroner?

By Unknown | At 12:11 AM | Label : | 0 Comments

Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Connect with Facebook

Jakarta, Dok usia berapa seseorang bisa terkena penyakit jantung koroner (PJK)? Terus terang saya takut menderita PJK. Karena saya sering nyeri dada dan lengan kiri dan jantung sering berdebar-debar. Saya sudah cek darah (GD=normal, kolesterol total agak tinggi 220.

Tekanan darah normal dan tidak mempunyai keluarga serangan jantung ataupun stroke, dan saya perokok), rontgen dada normal, EKG=normal sudah 6 x EKG. Hanya ada hasil EKG yang tachycardia.

Boy Sandi (Laki-laki menikah, 31 tahun)
sandiXXXX@gmail.com
Tinggi badan 168 cm, berat badan 68 kg

Jawaban

Dear Bapak Boy Sandi,

Selamat siang Bapak Boy Sandi, sebelumnya Anda sudah melakukan pemeriksaan EKG dan hasilnya membuktikan bahwa: Anda terkena penyakit takikardia. Kapan Anda terakhir kali pemeriksaan tersebut?

Lalu saya ingin bertanya lebih lanjut, kepada Anda, apakah Anda sudah melakukan pemeriksaan holter monitoring? Jika belum, saya sarankan Anda melakukan pemeriksaan Holter Monitoring. EKG: berdasarkan kondisi Anda saat ini, kami sarankan untuk melakukan pemeriksaan jantung HOLTER MONITORING. EKG tidak dapat mendiagnosa gejala-gejala seperti: nyeri dada, sesak napas, sesak dada dan jantung berdebar-debar dengan terperinci.

Mengenai kolesterol, kolesterol Anda cukup tinggi. Saya sarankan Anda untuk mengontrolnya hingga 200 mm/dl. Jika berlebih maka Anda dapat dengan mudahnya terkena gejala penyakit jantung koroner.

Mengenai usia penyakit jantung koroner, saya tidak dapat memastikannya. Semua orang pasti mudah berisiko penyakit jantung koroner. Bagi usia muda seperti Anda, seseorang yang berisiko penyakit jantung koroner bila ia tidak menjaga pola gaya hidup yang sehat dan pola makan yang teratur. Sering begadang, merokok, mengonsumsi goreng-gorengan, kolesterol tinggi. Saya sarankan Anda untuk terus memiliki dan melakukan pola gaya hidup yang sehat dan teratur.

Mengenai jenis "takikardia", kemungkinan Anda terkena gejala penyakit aritmia jantung, (gangguan pada irama jantung). Untuk pengobatan jenis penyakit ini, Anda boleh berkonsultasi lebih lanjut, gratis tidak dipungut bayaran sepeser pun dengan membawa hasil pemeriksaan Anda (EKG, holter monitoring dan hasil laboratorium).

Untuk informasi dan pendaftaran konsultasi, Anda dapat menghubungi: 021-99808123, terimakasih.

Profesor Xiao Mingdi

Dokter Spesialis Bedah Kardiovaskular di Shanghai Yodak Cardio-Thoracic Hospital. RS Cardio-thoracic Yodak Shanghai terletak di No.218 Jalan Longcao Distrik Xuhui Shanghai. Perwakilan di Jakarta ada di Menara Citicon Lantai 11 Blok Suite E, Jalan S Parman Kav 72, Slipi, Jakarta Barat 11410. Tel: 021 - 99808123 dan 021 - 99570666.

Anggota dari Association of Thoracic and Cardiovascular Surgeons of Asia, konsultan ahli dari Departemen Kesehatan RRC, Dewan Pengawas dari China National Science and Technology Progress Award, Wakil Direktur dari China Thoracic and Cardiovascular Surgeons Society, Ketua Kehormatan untuk Shanghai Thoracic and Cardiovascular Surgeons Society, Standing Committee Member of the China Medical Doctor Association.

(hrn/vta)

Punya Pertanyaan Seputar Kesehatan? Silahkan Klik di Sini

17 Jun, 2013


-
Source: http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656114/s/2d6087ee/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A130C0A60C170C1142460C22753440C13760Cusia0Eberapa0Eseseorang0Eterkena0Erisiko0Epenyakit0Ejantung0Ekoroner/story01.htm
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Sebelum Tersirat, Seseorang Bisa 'Rasakan' Senyuman Tulus Orang Lain

By Unknown | At 12:11 AM | Label : | 0 Comments

Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Connect with Facebook

Jakarta, Hati siapa yang tak gembira jika mendapat senyuman yang tulus dari orang lain, apalagi dari orang yang disayangi atau dicintai. Bahkan menurut sebuah studi baru, sebelum tersirat di wajah, senyuman tulus dari seseorang sudah bisa Anda 'rasakan' dan antisipasi.

Namun 'sinyal' serupa takkan pernah dirasakan dari senyuman yang dipaksakan atau senyum yang bersifat sopan. Atau dengan kata lain, untuk kedua jenis senyum ini, setiap orang hanya bisa mendeteksinya jika senyuman tersebut sudah terlihat atau tersirat di wajah orang lain.

Menurut tim peneliti dari Bangor University, UK, studi ini merefleksikan keunikan nilai sosial dari apa yang disebut dengan 'senyum yang tulus dari hati'.

Hal ini juga telah dibuktikan peneliti ketika memperhatikan beberapa pasang partisipan yang baru saja mengenal satu sama lain. Ternyata para partisipan ini tak hanya saling bertukar senyuman, tapi mereka juga hampir selalu dapat menebak apakah antara satu sama lain bertukar senyum yang tulus atau sekedar senyum sopan.

Partisipan memberikan respons yang lebih cepat kepada partner yang menunjukkan senyum tulus ketimbang ketika partner melempar senyum sopan mereka. Artinya para partisipan telah mengantisipasi senyuman tulus dari partnernya itu sejak awal.

Kemudian dari data sensor elektronik yang ada pada wajah partisipan terungkap bahwa ketika partisipan mengharapkan munculnya senyuman tulus dari partnernya, maka mereka bersiap membuat senyuman yang melibatkan otot-otot matanya, tapi peneliti tak melihat aktivitas apapun di seputar otot-otot mata partisipan ketika mereka menantikan senyum yang sopan di wajah partnernya.

"Perbedaan respons tersebut menunjukkan bahwa senyuman yang tulus merupakan bentuk penghargaan sosial yang sangat berharga. Dan temuan ini memberi petunjuk bahwa proses dasar yang menuntun kita untuk memberikan respons tertentu sebagai bentuk penghargaan terhadap orang lain (yaitu tersenyum) tampaknya juga memainkan peranan penting dalam membimbing perilaku sosial saat berinteraksi dengan orang lain," terang peneliti Dr. Erin Heerey.

Heerey pun menambahkan studi ini dapat membantu orang-orang yang kesulitan melakukan interaksi sosial.

"Seiring dengan kemajuan pemahaman kita terhadap perkembangan interaksi sosial, tampaknya temuan ini juga dapat membantu membuat intervensi bagi orang-orang yang kesulitan berinteraksi secara sosial, seperti penderita kecemasan sosial, autisme atau schizophrenia," tutupnya seperti dilansir Telegraph, Senin (17/6/2013).

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science.


(vit/vit)

17 Jun, 2013


-
Source: http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656114/s/2d6107cb/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A130C0A60C170C1230A170C22754250C7630Csebelum0Etersirat0Eseseorang0Ebisa0Erasakan0Esenyuman0Etulus0Eorang0Elain/story01.htm
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Berita Kesehatan Terkini - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz